5 Jenis Pendorong Agar Anda Mau Menulis

5 Jenis Pendorong Agar Anda Mau Menulis

Dalam kesempatan yang lalu kami sudah membahas tentang apa itu rasa ‘mau’ dalam menulis.

Seseorang yang memiliki kemauan besar untuk menguasai keterampilan menulis cenderung lebih cepat mahir ketimbang mereka yang sama sekali tidak memiliki kemauan.

Menariknya, rasa ‘mau’ ini dapat diciptakan.

Tidak melulu bertumpu pada aspek genetik semata. Artinya, orang yang berbakat jadi penulis tidak sekadar dilahirkan dari seorang ibu yang penulis pula.

Namun, kemauan itu dapat dibentuk. Dapat pula diciptakan. Asalkan memiliki pendorong yang kuat.

Pendorong ini yang membuat seseorang secara aktif mendatangkan rasa ‘mau’ itu.

Abraham Maslow pernah menjelaskannya dalam hirearki kebutuhan manusia. Dimana hal ini dapat dijadikan pendorong untuk menghadirkan rasa ‘mau’ dalam menulis. 

Mari kita simak selengkapnya berikut ini.

 

Pertama, Kebutuhan Fisiologis

Kebutuhan fisiologis ini adalah semua kebutuhan yang terkait pemenuhan kebutuhan fisik biologis seseorang.

Seperti kebutuhan makan, minum, memiliki rumah, pakaian hingga kebutuhan akan kesehatan.

Banyak penulis yang memang menggantungkan hidupnya dari menulis. Mereka berprofesi sebagai seorang penulis. Mendapatkan uang atau royalti dari hasil jerih payahnya menulis.

Ada pula sebagian orang yang girang bukan main kala mendapatkan sejumlah uang karena menang dalam lomba kepenulisan.

Sehingga uang yang didapat tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan, minum, membeli pakaian, rumah, dll.

Pelajari selengkapnya cara mendapatkan uang dari menulis DISINI

 

Kedua, Kebutuhan Rasa Aman

Sementara kebutuhan rasa aman ini lebih kepada kebutuhan terhindar dari gangguan fisik dan emosi.

Umumnya, menulis juga dapat meredam bahkan menghilangkan gangguan emosi yang tidak baik.

Itu sebabnya, beberapa karya tulis seperti karya fiksi lebih cenderung menjadikan penulis merasa terhibur saat sedih, kalut, khawatir dan cemas.

Bahkan sebuah penelitian yang dilakukan James W.Pennebaker, psikolog asal Unversity of Texas, menunjukkan bahwa menulis jurnal adalah satu bentuk obat anti depresi.  

Oleh sebab itu, jika Anda merasa cemas, khawatir bahkan depresi maka menulis adalah salah satu alternatif untuk mengatasi hal tersebut.

Seseorang yang terdorong untuk ‘mau’ menulis biasanya ia memiliki kebutuhan untuk mengatasi gangguan emosi yang ada.

 

Ketiga, Kebutuhan Sosial

Sejatinya manusia memang mahluk sosial. Manusia butuh berteman dan berinterakasi antara satu dengan lainnya.

Itu sebabnya, secara umum, pribadi dengan dengan karakter cenderung tertutup (introvert) biasanya memilih keterampilan menulis sebagai media untuk saling berinteraksi.

Meski sebenarnya tak semua penulis berkarakter introvert. Ada pula penulis seperti Raditya Dika, Boim Lebon, Asma Nadia, Ippho R. Santosa, Tung Desem Waringin yang juga cenderung berkarakter extrovert; ceria dan senang dengan keramaian.

Jadi, mau karakter Anda intovert atau ekstrovert, menulis dapat dijadikan sarana berinteraksi dengan orang lain.

Bagi Anda yang produktif menulis niscaya Anda akan banyak memiliki fans atau pembaca setia.  Semakin banyak fans atau pembaca setia Anda memungkinkan Anda dapat banyak melakukan interaksi kepada mereka.

Lewat interaksi tersebut kebutuhan sosial Anda dapat terpenuhi dengan baik. Anda dapat saling bertukar informasi, pengalaman, pengetahuan hingga berbagi cerita yang bermanfaat.

 

Keempat, Kebutuhan Penghargaan

Setiap orang memang butuh dihargai. Tentu saja atas hal baik dan positif yang telah dilakukan atau dimilikinya.

Penghargaan yang dimaksud dapat berbentuk benda atau bukan benda.

Berupa benda semisal sertifikat, piagam, trofi, piala atau medali.

Sedangkan dalam bentuk bukan benda dapat berupa ucapan terima kasih, sanjung puja-puji, testimoni positif, dll.  

Mereka yang memilih tahap keempat ini sebagai pendorong untuk ‘mau’ menulis biasanya ingin dianggap ahli dalam bidang tertentu. Misal, ketika ingin disebut pakar marketing maka seseorang menulis buku tentang marketing.

Ingin dikenal banyak orang layaknya artis atau selebgram maka seseorang bisa memilih aktifitas menulis sebagai cara untuk mendapatkan popularitas.  

Bisa jadi, alasan popularitas ini yang membuat seseorang terdorong untuk ‘mau’ melakoni keterampilan menulis.  

Popularitas seseorang tentu berbanding lurus dengan tulisan yang dihasilkan secara mumpuni. Baik itu dari sisi kualitas maupun dari sisi produktifitas.

Dapatkan 40 Alasan Kenapa Orang Harus Menulis DISINI

 

Kelima, Kebutuhan Aktualisasi Diri

Pada tingkat kelima ini dimana Anda lebih memilih keterampilan menulis sebagai sebuah idealisme.

Sebagai contoh, menulis untuk menyampaikan pesan-pesan agama (dakwah), menulis untuk warisan budaya, pemikiran atau pengalaman, menulis untuk mengkritik pribadi/kebijakan pemerintah atau instansi.

Jadi, di tahap ini, yang mendorong seseorang untuk ‘mau’ menulis adalah kebutuhan untuk berbagi kisah, pengalaman, pengetahuan, hiburan, perasaan dan inspirasi.  

Dengan tujuan agar pembaca terhibur, mendapat wawasan dan termotivasi.

Kalau kita telaah lebih dalam, teori kebutuhan ala Abraham Maslow ini memang berjalan memuncak.

Maslow beranggapan bahwa seseorang tidak akan sampai ke aktualisasi diri manakala tahap kebutuhan fisiologis seseorang tidak terpenuhi.

Artinya, setiap orang harus melewati tahap demi tahap dari hirarki kebutuhan tersebut hingga kemudian sampai pada titik tertinggi yakni kebutuhan aktualisasi diri.

Meski demikian, Anda boleh beranggapan sama seperti Maslow boleh juga tidak.

Dalam kaitannya dengan memicu rasa ‘mau’ dalam menulis maka Anda dapat memilih pada tahapan yang paling sesuai dengan Anda.

Misal, agar Anda terdorong untuk menulis maka Anda memilih di tahap pertama.  

Lewat menulis maka Anda dapat memenuhi kebutuhan fisiologis meliputi kebutuhan makan, minum, kesehatan, membeli pakaian baru, dll.  

Bolehkah hal tersebut dilakukan?

Tentu saja boleh. Karena pendorong tiap-tiap orang dalam melakukan sesuatu didasarkan pada kebutuhannya masing-masing.

Di lain hal, mungkin ada sebagian dari Anda yang menjadikan tahap keempat sebagai pendorong untuk ‘mau’ melakukan aktifitas menulis.

Karena bisa jadi kebutuhan fisiologisnya sudah terpenuhi pada bidang pekerjaan yang lain.

Kalau begitu, yuk pilih minimal satu dari kebutuhan versi Maslow di atas agar Anda terdorong untuk ‘mau’ menekuni dunia tulis-menulis.

Setuju?

 

 

 

error: Content is protected !!