Beda Percetakan dan Penerbitan

Beda Percetakan dan Penerbitan

Banyak pertanyaan yang masuk kepada tim Gerhana Publishing perihal biaya cetak buku. Bentuk pertanyaannya sebagai berikut:

“Kak, untuk cetak 100 buku berapa, ya?”

“Kak, cetak satu aja, bisa?”

“Kalau di tempat kakak minimal cetak buku berapa biji, ya?”

Pertanyaan ini seringkali menimbulkan pertanyaan baru yang kami tujukan kepada si penanya. Misalnya seperti berikut ini:

“Apakah bukunya sudah selesai pracetak?”

“Ketebalan bukunya berapa halaman ya?”

“Ukuran bukunya berapa, Kak?”

“Bukunya sudah Ber-ISBN atau belum?”

“Kertas isi pakai HVS atau bookpaper, Kak?

Mengapa kami harus bertanya kembali kepada penulis yang hendak mencetak bukunya kepada kami?

Ya, tujuannya untuk memastikan harga yang tepat atas jasa cetak yang diinginkan penulis. Acapkali penulis tidak bisa membedakan mana penerbit dan mana pencetak.

Padahal sejatinya perusahaan penerbitan buku dan percetakan adalah dua perusahaan yang berbeda.

 

Penerbit vs Pencetak

Penerbit buku merupakan perusahaan yang berkegiatan mengemas naskah. Fokus utamanya adalah konten naskah dari buku yang hendak diterbitkan. Itu sebabnya ada dua istilah penting dalam proses penerbitan yakni pracetak dan cetak.

Sementara perusahaan percetakan lebih fokus mencetak konten naskah saja. Terkait isi naskah, desain kover dan tata letak, dan penomoran ISBN biasanya tidak menjadi ranah pekerjaan percetakan.

Itu sebabnya, sering kita melihat pada bagian prelims tertulis jelas bahwa “isi buku tidak menjadi tanggung jawab percetakan”. Hal demikian terjadi karena memang tugas utama perusahaan percetakan sebatas mencetak saja.

Perusahaan penerbitan buku secara khusus harus sangat konsen pada proses pracetak. Di dalam proses pracetak inilah inti dari aktifitas penerbitan.

Sebagaimana jamak kita tahui bahwa proses pracetak itu meliputi editing naskah, tata letak isi buku (lay out), desain sampul buku, cetak dummi, baca proof hingga penomoran ISBN.

Lazimnya pada perusahaan percetakan memang tidak memiliki staf editor. Namun hampir semua perusahaan percetakan pasti memiliki tenaga ahli dalam hal desain dan teknisi mesin cetak.

Staf desain berperan memastikan naskah softcopy siap cetak sudah tepat untuk naik ke mesin cetak. Sedangkan teknisi mesin cetak bertanggung jawab terhadap kinerja mesin agar menghasilkan cetakan yang berkualitas.

 

Pracetak Mandiri

Tidak jarang ditemui bahwa banyak penerbit yang meminta penulis melakukan proses pracetak tersebut secara mandiri. Dengan kata lain, penulislah yang melakukan proses editing, tata letak isi buku, dan desain sampul.

Sementara penerbit mengambil peran sebatas memberi nomor ISBN dan mencetak saja. Wajar saja bila kemudian biaya penerbitan sekaligus percetakan menjadi sangat murah.

Penerbit yang meminta penulis melakukan kinerja pracetak (edit, desain kover, lay out) secara mandiri terjadi bisa disebabkan pada beberapa alasan.

Pertama, penerbit tersebut memang bermula dari perusahaan percetakan. Dunia literasi yang sedang naik daun mengundang perhatian banyak percetakan untuk kemudian mengambil layanan jasa cetak buku sekaligus menerbitkannya. Tanpa mempertimbangkan aspek penyuntingan naskah.

Kedua, tidak paham editorial. Karena bermula dari perusahaan percetakan wajar saja kalau kemudian penerbitan seperti ini kurang paham dengan proses pracetak. Utamanya dalam hal editorial naskah.

Ketiga, alasan harga. Alasan ini yang tentu saja kurang layak. Karena persoalan bisnis dan perang harga maka sebagian penerbit memangkas kegiatan operasional pracetak tersebut. Sehingga proses pracetak diserahkan secara utuh kepada penulis.

Karena perusahaan penerbitan dan percetakan adalah dua tipe perusahaan yang berbeda maka sudah sepatutnya perusahaan percetakan yang juga merangkap diri sebagai penerbitan harus terus berbenah diri terkait kerja-kerja editorial naskah. Hal ini dilakukan agar naskah yang dikemas tidak terbit dengan serampangan.

Baca: Murah dan Mahalnya Harga Cetak Bergantung Ini

Salahkah bila proses pracetak dilakukan secara mandiri oleh si penulis?

Dalam pola penerbitan vaniti tentu saja tidak salah. Namun tidaklah tepat bila pihak penerbit tidak melakukan proses editorial terhadap naskah yang diterbitkan.

Ibarat pabrik, proses editorial adalah quality control. Aktifitas editorial merupakan proses terpenting dalam kegiatan pracetak naskah.

Termasuk dalam desain kover dan desain tata letak isi, editor berperan aktif memberikan saran dan masukan agar buku yang diterbikan dapat menarik minat pembaca.

Pada proses pracetak inilah yang sebenarnya banyak menyita waktu. Anda patut curiga terhadap naskah yang Anda terbitkan setebal 200 halaman A4 dan dicetak 500 eksemplar dapat selesai terbit dan dicetak dalam waktu satu minggu.

Bisa jadi naskah tersebut tidak melewati tahapan pracetak atau editorial yang matang. Kemungkinan terbesar naskah tersebut langsung masuk ke dapur percetakan.

Itu sebabnya penulis harus memahami bahwa proses pracetak, dimana kegiatan editorial termaktub di dalamnya, sangatlah membutuhkan waktu khusus.

 

Durasi Penyuntingan Naskah

Di dalam buku “Tak Ada Naskah yang Tak Retak” karya Bambang Trim yang mengulas perihal editing naskah menjelaskan bahwa untuk penyuntingan naskah ringan (tanpa gambar, grafik, kurva atau tabel) dengan ketebalan 6 halaman A4 spasi 1,5 fonta Times New Romans membutuhkan waktu satu jam.

Sementara naskah berat (yang penuh dengan gambar, tabel, kurva atau grafik) kira-kira hanya dapat menyelesaikan 2-3 halaman A4 A4 spasi 1,5 fonta Times New Romans  dalam kurun waktu satu jam.

Jadi, bisa dibayangkan jika naskah yang masuk ke meja editor setebal 300 halaman A4 spasi 1,5 fonta Times New Romans dengan kriteria naskah ringan niscaya durasi waktu penyuntingan saja membutuhkan waktu berkisar 50 jam.

Atau dengan kata lain, seandainya editor bekerja selama 8 jam dalam sehari maka naskah 200 halaman tersebut dapat selesai disunting kurang lebih dalam waktu 4-5 hari kerja.

Ingat, waktu 4-5 hari tersebut hanya untuk penyuntingan naskah saja. Belum termasuk desain tata letak, desain kover, penomoran ISBN, baca proof apalagi durasi waktu pencetakan naskah.

Secara tahapan, naskah yang sedang disunting tentu tidak bisa sekaligus ditata letak (lay out). Bahkan tidak mungkin naskah mentah (belum disunting dan dilay out) langsung diajukan nomor ISBN-nya.

Baca: Durasi Ideal Proses Penerbitan Buku

Oleh sebab itu, proses penerbitan naskah buku setebal 200 halaman dengan oplah 500 eksemplar dapat selesai dalam waktu satu minggu bisa jadi memang sebatas proses pencetakan saja tanpa proses editorial yang mumpuni.

Apakah hal demikian memang benar-benar tidak mungkin terjadi?

Sebenarnya mungkin saja naskah buku setebal 200 halaman dengan oplah 500 eksemplar dapat selesai diterbitkan dalam waktu satu minggu dan dengan proses editorial yang baik.

Hanya saja biaya untuk proses penerbitan tersebut akan lebih mahal bila dikerjakan dalam waktu normal.

Di beberapa keadaan penerbit tak harus punya mesin cetak. Namun jika memiliki bujet yang cukup untuk memiliki mesin cetak sendiri tentu saja hal demikian jauh lebih baik.

Penerbit kategori kecil dan menengah biasanya menggunakan jasa pihak ketiga sebagai pencetak naskah. Ini yang menyebabkan jasa cetak cenderung lebih mahal dibanding penerbit yang awal mula berdirinya memang bertindak sebagai perusahaan percetakan, lantaran memiliki mesin cetak sendiri.

Hanya penerbit mayor saja yang umumnya memiliki mesin cetak buku secara khusus.

Saran kami bagi para penulis, sebaiknya tidak tergiur pada proses cetak yang cepat dan murah saja. Melainkan perhatikan pula aspek pracetak yang ditangani secara baik oleh editor di penerbit tersebut.

Namun jika Anda mendapati penerbitan dengan kualitas pracetak yang baik, durasi cetak yang cepat dan biaya yang ekonomis tentu saja itu kabar yang menggembirakan.

Baca: Beli ISBN Saja, Boleh?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!