Berapa Harga yang Pantas untuk Tulisan Anda?

Berapa Harga yang Pantas untuk Tulisan Anda?

Seminar dan pelatihan tentang writerpreneur kini sedang marak-maraknya. Menghasilkan uang hanya dengan menulis memang mengundang kelezatan tersendiri.

Bagaimana tidak, hanya dengan duduk, mengkhayal lalu mengetikkan tulisan yang kita mau maka duit pun datang. Asumsi ini menggoda orang-orang di luar sana. Padahal faktanya tak segampang itu.

Writerpreneur atau pebisnis tulisan memang bekerja menjual tulisan. Tulisan menjadi komoditas. Tidak semata buku. Tapi ada banyak jalur yang diduga dapat menghasilkan duit lewat berbisnis tulisan.  

Beberapa penulis yang nyemplung  ke dunia writerpreneur seperti Asma Nadia, Bambang Trim, Fahmi Casofa, Anang YB, Alberthiene Endah, Kirana Kejora, Sofie Batrix, Dodi Mawardi mengaku bahwa seorang writerpreneur tidak semata menulis buku dan mengirimkannya ke penerbit lalu mendapatkan royalti.

 

sumber foto: pixabay

 

Metode royalti sejatinya tidak memungkinkan seseorang bisa kaya atau menafkahi hidup. Kalaupun ada, hanya hitungan jari saja. Pola royalti tidak mudah diduplikasi. Karena pada umumnya, naskah yang laris di pasaran ditentukan banyak faktor. Faktor kualitas karya tentu saja.

Namun, tidak cukup hanya kualitas karya. Ketika penerbit menerima naskah yang berkualitas maka penerbit akan menimbang-nimbang peluang laris dari naskah berkualitas tersebut.

Salah satu aspek timbangan itu adalah siapa penulisnya, berapa follower medsosnya, siapa pembaca sasarannya, apa latar belakang penulis sehingga dapat dibilang kompeten terhadap tulisan yang dihasilkan, hingga bagaimana kemudian penulis membantu memasarkan buku tatkala sudah selesai terbit.

Jadi, memang ada sederet pertanyaan penting yang wajib dijawab penerbit dan penulis. Industri penerbitan buku memang berangkat dari filosofi bisnis. Ada untung rugi di dalamnya. Wajar saja. Karena penerbit buku menanggung banyak biaya. Mulai dari biaya produksi, operasional, pajak, dan sebagainya.

Apalagi model conventional publishing merupakan model penerbitan yang memungkinkan penerbit mendanai biaya produksi naskah dari hulu ke hilir.

Atas dasar inilah, sebuah penerbit membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menimbang-nimbang; layak atau tidak buku tersebut diterbitkan sekalipun naskahnya berkualitas.

Bila penerbit salah dalam menimbang niscaya kerugian akan menjadi badai di perusahaan. Buku tak laku. Menumpuk di gudang dan akhirnya harus dijual obral. Parahnya, buku tak laku pun akan dimusnahkan!

sumber foto: unsplash

 

Royalti Buku

Kembali ke writerpreneur, menerbitkan buku dan mendapatkan royalti tidak menjadi fokus para pebisnis tulisan. Dari sisi penulis yang cenderung pasif dan besaran royalti dengan angka maksimal 10% juga sangat memungkinkan bahwa penghasilan dari royalti sangat tidak memadai.

Belum lagi pembayaran royalti yang dibayarkan dengan jangka waktu 6 bulan hingga 12 bulan lamanya. Jika satu naskah menunggu proses penerbitan 3-4 bulan dan penulis mendapatkan royalti 6 hinggga 12 bulan kemudian maka penulis baru dapat menikmati royalti atas naskah tersebut berkisar 16 bulan lamanya. 

Lama sekali, bukan?

Sementara dalam kurun waktu 16 bulan tersebut penulis butuh makan, butuh belanja buku, butuh bayar listrik, butuh riset dan observasi guna mendalami sebuah naskah.

Jika pun harga buku dibandrol Rp80.000,- maka penulis mendapatkan Rp8.000/eksemplar yang laku terjual. Sekiranya dalam waktu 16 bulan buku tersebut laku 3.000 eksemplar maka penulis akan mengantongi Rp24.000.000,-

Angka ini akan menjadi sangat kecil bila diberikan kepada penulis pada bulan ke-16. Bila dirata-ratakan maka penulis hanya mendapat Rp1.300.000,- per bulan. Itu belum termasuk pajak. Dari informasi yang berkembang, penulis hanya mendapatkan royalti bersih setelah dipotong pajak adalah 7% dari harga jual buku.

Jika harga buku Rp80.000,- maka itu sama artinya penulis hanya mendapat Rp5.600,- per eksemplar buku. Maka total keseluruhan bila laku 3.000 eksemplar adalah Rp16.000.000,-Dalam kesempatan ini, penulis mendapatkan Rp1.000.000,- per bulan.

Apakah ini angka yang kecil?

Tergantung. Bila si penulis adalah seorang anak SMA yang segala kebutuhannya masih ditanggung orang tua maka ini termasuk angka yang lumayan. Tapi bila si penulis adalah seorang kepala rumah tangga dengan satu orang istri dan tiga orang anak maka ini angka yang sangat kecil.

 

sumber foto: freepik

 

Apa Sebenarnya Writerpreneur Itu?

Itu sebabnya, para writerpreneur mengambil kesimpulan bahwa menunggu royalti tidak dikategorikan dalam bisnis tulisan. Kalaupun hendak menulis buku sendiri, biasanya penulis bergaya writerpreneur akan memilih menerbitkan dan menjual secara mandiri (baca: self publishing atau vanity publishing). Disinyalir cara ini memang berpeluang mendapatkan keuntungan lebih besar dan cepat.

Lantas, apa sebenarnya writerpreneur yang dimaksud?

Sederhananya, writerpreneur itu penulis jasa. Ia menawarkan jasa tulisannya kepada siapa saja yang membutuhkan. Ia mematok harga sesuai kebutuhan dan tingkat kesulitan naskah yang ditulis.

Saya mengibaratkan penulis jasa ini serupa tukang jahit. Seseorang datang membawa bahan hendak dipermak menjadi baju atau celana. Maka jasa Anda sebagai tukang jahit diperlukan untuk membuat desain pakaian yang diinginkan orang tersebut. Lalu kemudian Anda memasang tarif yang pantas atas pekerjaan tersebut.

Begitulah writerpreneur secara umum. Meski sebetulnya bentuk-bentuk writerpreneur juga tak sesederhana itu. Ada banyak ragam writerpreneur lainnya yang tak sekadar ‘tukang jahit’ kata-kata saja. Tapi, para writerpreneur yang banyak saya jumpai memang bekerja sebagai ‘tukang jahit’ kata-kata.

Semisal Asma Nadia. Ia diminta para pengusaha untuk menuliskan kisah hidup si pengusaha dalam bentuk novel. Diantara novel tersebut adalah Cinta Dua Kodi, Bidadari Untuk Dewa, Sehidup Sesurgamu Denganmu, dll.

Sementara Alberthiene Endah menjadi penulis bayangan (ghost writer) atas ide-ide tokoh nasional seperti Merry Riana; Mimpi Sejuta Dolar, Jokowi Menuju Cahaya, Ani Yudhoyono; 10 Tahun Perjalanan Hati, Anne Avantie; Aku, Anugerah dan Kebaya.  Begitu juga dengan Anang YB, Bambang Trim, Dodi Mawardi, dan Fahmi Casofa yang fokus menekuni ghost writer dan co-writer.

Mereka adalah contoh penulis jasa yang konsen pada menuliskan gagasan dan ide-ide orang lain. Tidak jarang, mereka juga mendapat tawaran menulis dari penerbit mayor seperti Gramedia, Elex Media Komputindo, atau Tiga Serangkai.

Tulisan yang mereka garap biasanya permintaan penerbit yang membutuhkan naskah dalam waktu cepat namun tetap berkualitas.

 

sumber foto: pixabay

Tarif Writerpreneur

Dalam hal penulis jasa, tarif mereka memang tak tanggung-tanggung. Ada yang dibayar per naskah, per halaman, per kata hingga jam. Saat mengikuti sesi web seminar yang Bambang Trim adakan, beliau memasang tarif jasa menulis mulai dari Rp60.000 per halaman A4. Sepertinya ini tarif dasar terendah.

Seingat saya, Alberthiene Endah sendiri menggarap sebuah buku biografi memasang tarif setara dengan harga satu mobil Toyota Kijang Innova. Kirana Kejora pernah menyinggung soal tarif novel bikinannya mulai dari Rp30juta-an dengan ketebalan 200-300 halaman A5. Itu artinya, tarif satu halaman A5 seharga Rp100ribu.  

Lalu, berapa tarif tulisan Anda jika memang telah memutuskan menjadi seorang writerpreneur?

Kalau saya memasang tarif Rp100-Rp150 per kata. Biasanya per halaman A4 berkisar 330 kata. Anda dapat menghubungi Whatsapp 0813-7045-2813 untuk mengetahui detil apa saja fasilitas dan layanan yang didapat dari tarif sebesar itu.

 

Saat saya mengikuti kegiatan Workshop Writerpreneur Accelerate yang diselenggarakan oleh Kementrian Ekonomi Kreatif 2019 lalu.

 

Namun jauh dari itu, penentuan tarif adalah bukan hal yang pertama. Sebagai awalan, Anda memang harus fokus menulis. Senjata para writerpreneur adalah menulis. Anda ingin menguasai tulisan jenis apa. Sehingga akan berpengaruh pada layanan yang akan Anda tawarkan.

Misal, Asma Nadia fokus pada novel. Maka jasa yang beliau tawarkan adalah jasa penulis novel berdasarkan kisah nyata. Beda lagi Anang YB dan Bambang Trim yang fokus pada penulis buku biografi dan penulisan naskah buku populer.  

 

Ingin menjadi writerpreneur? Pelajari prinsip dasarnya DISINI.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!