Editor yang Baik Terhadap Penulis

Editor yang Baik Terhadap Penulis

Mungkin sebagian kita mengira bahwa pekerjaan editor hanyalah mengoreksi benar dan salah tulisan saja. Sebenarnya tidak. Kegiatan menyunting naskah lebih dari itu.

Dalam buku “Tak Ada Naskah yang Tak Retak” karya Bambang Trim dijelaskan bahwa ada tujuh aspek yang penting disunting oleh editor. Yakni keterbacaan, kebahasaan, konsistensi, ketelitian data dan fakta, kelegalan dan kesopanan, kejelasan gaya bahasa, dan rincian produksi.

Terkait bahasa seperti kesalahan tipografi, kalimat yang tidak efektif, pemenggalan paragraf, kekeliruan ejaan merupakan bagian dari kebahasaan. Oleh sebab itu, pengerjaan editor memang tidak bisa dianggap sebelah mata.

“Hanya sekedar ganti dikit-dikit aja kok,”

“Tinggal edit halaman akhir saja.”

“Ah, masak ngedit gitu doang gak bisa.”

Beberapa penulis cenderung menyepelekan pekerjaan editor dengan pernyataan-pernyataan yang kurang tepat. Padahal bisa jadi penulis itu sendiri memang tidak paham bagaimana proses editing sebuah naskah.

Dalam dunia penerbitan buku, editor adalah jabatan penting dan utama. Semua naskah yang masuk umumnya akan disaring terlebih dahulu oleh editor. Pun pada penerbit besar, editor memiliki beberapa tingkatan. Mulai dari editor naskah, editor pemerolehan (substantif) hingga chief editor.

 

Kelihaian Editor

Hubungannya dengan penulis, editor tidak serta-merta memangkas bagian ini-itu dalam sebuah naskah. Ada beberapa bagian naskah dimana editor memang harus berbincang dengan penulis. Bisa jadi maksud penulis A namun dalam naskah tertulis B. Disinilah fungsi negosiasi yang dimiliki editor harus berjalan dengan baik.

Editor bukanlah manusia paling benar dalam hal naskah. Sehingga menyangka bahwa semua naskah yang masuk sudah benar. Meski kemudian insting editor terhadap naskah juga harus dimulai dari anggapan bahwa di dalam naskah pasti ada kekeliruan.

Bukan berarti pula setiap naskah yang masuk dianggap salah. Bahkan tidak jarang dilakukan oleh editor yakni memperbaiki sesuatu yang sudah benar sehingga menjadi salah. Inilah kesalahan paling fatal yang telah dilakukan seorang editor.

Untuk itu, editor yang baik memang perlu bertatap muka atau menjalin komunikasi dengan penulis. Tujuannya adalah untuk sama-sama saling memahami atas naskah yang ada. Editor yang baik terhadap penulis bukan pula harus menuruti semua kehendak penulis. Adakalanya keinginan penulis memang tidak tepat diwujudkan di dalam buku.

Oleh karenanya, editor memang wajib memiliki portofolio karya yang mumpuni agar tidak dianggap sebelah mata oleh penulis. Selain portofolio, legalitas semacam sertifikasi profesi editor juga penting disampaikan kepada penulis. Agar penulis juga menilai bahwa Anda adalah editor yang serius dalam menjalani profesi.

Kini, sertifikasi editor telah memiliki dua skema. Yakni skema sertifikasi editor naskah dan editor pemerolehan (substantif editor) sebagaimana yang diselenggarakan oleh LSP Penulis & Editor Profesional.

Naskah yang ditulis oleh penulis akan semakin baik bila telah disunting oleh editor yang baik lagi profesional. Editor yang baik pun tidak boleh merasa diri paling hebat sehingga sangat mudah memberikan marka editing sesuka hati tanpa membangun hubungan yang baik dengan penulis sebagai pemilik naskah.  

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!