Gagasan Anda Tidak Dilindungi

Gagasan Anda Tidak Dilindungi

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti zoominar bertajuk mengulik hak cipta dan perjanjian penerbitan yang digelar dalam rangka “Festival Literasi Bacaan Anak Indonesia 2021”.

Bila berbicara perihal Undang-Undang Hak Cipta tentu kita tidak pernah lepas dari apa yang disebut sebagai Hak Moral dan Hak Ekonomi.

Dalam kesempatan lain saya akan bahas lebih detil kedua tipe hak tersebut.

Namun, salah satu hal yang menarik dalam Undang-Undang Hak Cipta adalah karya yang dilindungi Undang-Undang merupakan karya yang telah jadi.

“Telah Jadi” yang dimaksud yakni ide Anda sudah ditulis. Dalam hal ini kita berbicara karya tulis dalam bentuk buku.

Maka ketika karya Anda masih dalam bentuk ide atau gagasan dan belum ditulis berwujud buku maka ide dan gagasan itu tidak dilindungi oleh Undang-Undang.  

Ini yang banyak terjadi ketika seorang author, yang kerap memiliki banyak gagasan, selalu sering kecolongan.

Hari ini si author bercerita panjang lebar kepada writer tentang ide dan gagasannya. Bisa jadi esok pagi ide tersebut sudah berhasil ditulis si writer dalam bentuk buku dan diterbitkan.

Author tidak bisa menggugat bahwa ide yang ditulis si writer merupakan miliknya.

Justru yang mendapatkan perlindungan UU Hak Cipta adalah karya yang telah ditulis oleh si writer dalam bentuk buku tadi. Meski ide yang ia dapat dari si author.

Ketika melihat idenya ditulis dan diterbitkan oleh si writer niscaya si author hanya bisa gigit jari sambil nangis di pojokan. Hehehe.

Ide dan gagasan itu sebaiknya memang tidak diceritakan kepada orang lain apalagi kepada si writer.

Sebab apa?

Sebab writer cenderung lebih memiliki kepiawaian mengeksekusi ide dalam bentuk tulisan ketimbang si author.

Sebab lainnya, karena ide dan gagasan yang masih berada di awang-awang atau hanya ada di benak si author maka ide tersebut tak mendapatkan perlindungan UU Hak Cipta.

Sayang sekali jika ide dan gagasan besar Anda terlanjur disampaikan kepada banyak orang lantas orang lain yang menuliskannya menjadi buku.

Lalu, apa solusi yang harus dilakukan agar ide dan gagasan itu dapat perlindungan UU Hak Cipta?

Tentu saja, Anda sebagai si pemiliki ide harus segera menuliskannya dalam bentuk buku.

Wah, saya terlalu banyak ide dan gagasan yang brilian, Mas. Tapi tak punya waktu untuk menuliskannya. Saya juga tak piawai menuliskannya ke dalam buku.

Tenang. Anda bisa pakai jasa ghost writer, kok.

Ghost writer merupakan jasa penulisan yang diberikan oleh penulis (writer) terhadap orang lain yang memiliki ide atau gagasan tapi terbatas waktu dan tenaga.

Jadi, kalau posisi Anda hanya sebatas pemilik gagasan dan ide maka Anda disebut sebagai author.

Nah, ketika Anda menyewa penulis untuk menuliskan ide-ide Anda tersebut maka penulis itu disebut sebagai ghost writer.

Anda tidak perlu risau. Menyewa jasa ghost writer adalah halal. Enaknya lagi, jasa ghost writer ini namanya tidak tercantum sebagai penulis.

Nama Anda, sebagai author, yang tetap tercantum sebagai penulis. Disebut ghost (hantu) lebih karena nama si ghost writer memang tidak muncul sebagai penulis buku.

Meski hanya sebagai ghost writer, saya pribadi merasa sangat puas. Mengapa?

Karena saya bisa membantu para author menuliskan ide-ide besar mereka, yang jauh sebelumnya, memang tidak pernah saya pikirkan.

Mulai dari ide bisnis, pengalaman hidup, motivasi hingga kepiawaian akademik.

Para author yang saya bantu menulis bukunya pun mengaku senang. Sebab mereka langsung mendapatkan layanan satu paket. Jasa penulisan plus jasa penerbitan bukunya sekaligus.

Menarik, bukan?

Kalau begitu, Anda mau pakai jasa ghost writer untuk melindungi ide dan gagasan Anda? Atau malah ingin menulis sendiri ide tersebut?

 

 

Dapatkan Tips Cara Mengatasi Beragam Kendala Teknik dan Mental dalam Menulis dalam 30 Hari »  KLIK DISINI-GRATIS

 

 

 

 

error: Content is protected !!